Sejak awal, penemu, pengembang, sekaligus pemilik
Google tidak menginginkan adanya iklan sama sekali. Mualanya Google hanya
dibangun sebagai search engine yang dapat membaca konten dari sebuah situs. Itu
sebanya Google mampu memberikan hasil pencarian yang lebih komprehensif. Bahkan
Google juga membaca konten dari setiap inbox di Gmail.
Bersamaan dengan tingginya pencarian yang
dilakukan internet user menggunakan Google, permintaan untuk beriklan pun meningkat.
Akhirnya Google memutuskan untuk memuat iklan di mesin pencari dan email dalam
bentuk teks. Google memang menghindari iklan-iklan visual (banner) meskipun
iklan seperti ini sangat penting dalam strategi branding. Iklan teks di Google
ditampilkan bersamaan dengan hasil pencarian berdasarkan key word yang dimasukkan oleh user. Sementara iklan yang
ditampilkan di inbox email ditampilkan berdasarkan kata-kata yang terdapat
didalam inbox Anda. Jika terdapat kata ABC dalam inbox Anda, maka iklan yang
tampil adalah iklan yang memuat kata ABC.
Yang perlu menjadi catatan adalah, semua iklan
tersebut ditampilkan berurutan dari atas kebawah. Kita anggap saja ada lima
urutan. Pengiklan hanya dapat menampilkan iklannya pada posisi pertama jika ia
membayar lebih mahal dari pengiklan yang berada diposisi 2 dan begitu
seterusnya. Namun pengiklan yang berada di posisi 5 bisa saja menempati posisi
1 jika ia membayar lebih tinggi dari yang menempati posisi 1 sekarang. Cara ini
disebut bidding seperti pada
pelelangan, dimana barang akan dilepas kepada orang yang berani membayar paling
mahal.
Pemasangan iklan di Google menerapkan konsep PPC
(Pay Per Click). Biaya pemasangan iklan ditentukan berdasarkan PPC sebesar 2,5
sen (minimal), dan maksimal ditentukan sendiri oleh pengiklan. Jika pengiklan
menetapkan maksimal 100 click pada iklannya, maka biaya yang harus dibayar
adalah PPC x 100 atau 2,5 sen x 100 = US$ 2,5 (sekitar Rp. 18 ribu). Sejauh ini
biaya PPC terendah yang pernah dibayarkan oleh pengiklan adalah 5 sen dan tertinggi
sebesar US$ 19 (sekitar Rp. 171 ribu).
Semua angka-angka tersebut ditetapkan sendiri oleh
pengiklan ketika mendaftar secara online, kecuali biaya minimal PPC. Anda
jangan berharap sistem pembayaran di Google layaknya membayar listrik, dimana
pembayaran dilakukan berdasarkan tagihan atas pemakaian listrik. Biaya beriklan
di Google harus dibayarkan dimuka atau begitu pengiklan selelsai melakukan
pendaftaran. Kalau pemasang iklan menggunakan kartu kredit, maka ia akan dapat
menggunakan administrasi areanya begitu selesai mendaftar, tentunya jika tidak
ada masalah pada kartu kredit tersebut.
Setelah semuanya selesai, seperti saya uraikan
diatas, bahwa pengiklan akan mendapatkan administrasi area untuk mengontrol
performa iklannya seperti; sudah berapa klik yang terjadi pada iklan yang
dipasang, yang secara langsung terhubung dengan deposit yang telah dibayarkan.
Semakin tinggi jumlah klik pada iklan, jumlah deposit akan semakin sedikit,
karena dikurangi sesuai dengan biaya PPC yang telah tetapkan semula sampai
akhirnya habis. Deposit PPC mungkin saja akan lebih cepat habis, jika pengiklan
meningkatkan PPC nya dengan maksud mendapatkan posisi yang lebih baik, sehingga
kemungkinan untuk di klik semakin besar.
Misalnya pemasang iklan menaikkan PPC dari 2,5 sen
menjadi 5 sen, dan Jika posisi iklannya ingin terus berada pada posisi
teratas, maka pengiklan harus terus
meningkatkan PPC nya. Kenaikan PPC ini akan diikuti dengan perpindahan posisi
iklan ketempat yang lebih tinggi ketika ditampilkan bersamaan dengan hasil
pencarian. Jika si pemasang iklan termasuk dalam golongan pemasar atau media
planer yang tergila-gila pada kuantitas (rating/tingkat kunjungan), dapat
dipastikan ia akan terus melakukan bidding
hingga akhirnya justru terjebak pada (Cost per Contact) CPC yang tinggi.
Sebagai contoh dari bidding, Anggap saja saya ingin meningkatkan traffic di situs saya dan memutuskan untuk beriklan di Google
dengan asumsi, satu juta pencarian yang dilakukan user di Google akan
memberikan peluang pada iklan saya untuk di click
sebanyak satu juta kali. Kalau 1% (10
ribu) dari total user melakukan klik pada iklan saya, maka kemungkinannya situs
saya akan mendapatkan tambahan pengunjung sebanyak 10 ribu orang. Semakin besar
saya menentukan total klik, maka semakin besar pula peluang iklan saya untuk di
klik orang. Toh PPC nya hanya 2,5 sen. Lagipula iklan saya tetap akan tampil
meskipun tidak di klik.
Ilustrasi diatas memang terdengar menyenangkan.
Apalagi untuk para pemasar yang masih menjadikan rating sebagai primadona dalam
strategi media placement nya
(untungnya saya tidak termasuk dalam golongan ini), bukannya mengacu pada
kategori dan karakter media yang sesuai dengan bisnisnya. Perlu digaris bawahi juga,
dengan memasukkan key word yang
mendeskripsikan bisnis Anda, Google telah memandu pemasang iklan untuk masuk
kedalam kategori yang lebih kecil dan pengiklan tidak akan pernah mendapatkan
total user di Google yang mancapai satu juta per hari. Iklan tersebut hanya
akan ditampilkan, dan mungkin saja di klik oleh user yang melakukan pencarian
di kategori yang sesuai dengan kategori iklan tersebut, berdasarkan
pendeskripsian yang dibuat sendiri oleh pemasang iklan.
Sebaiknya iklan pemasangan iklan diarahkan pada
kategori dan jangan pernah terpaku pada angka satu juta user per hari. Karena
angka satu juta tersebut akan tereduksi berdasarkan pencarian yang dilakukan
pengguna Google. Yang seharusnya menjadi pertanyaan adalah, berapa orang yang
melakukan pencarian di kategori yang sesuai dengan bisnis Anda? Sebagai contoh,
jika saya memasukkan key word:
“spesifikasi New Audi TT”, maka iklan yang akan tampil adalah iklan-iklan yang
memuat kata: “spesifikasi”, “New”, “Audi TT”. Jika Anda seorang pemilik
showroom mobil yang menjual Audi TT terbaru, dan Anda memasukkan kata Audi TT,
ada kemungkinan iklan Anda akan tampil bersamaan hasil pencarian di
Google.
Pengkategorian dipergunakan untuk memudahkan
pencarian dan penyimpanan informasi didalam database milik Google. Toh
pemilihan kategori adalah perilaku alamiah manusia. Kita secara natural
melakukan pengelompokan terhadap benda-benda. Tumbuhan kita kelompokan sebagai
flora, binatang sebagai fauna, dan terus membaginya kedalam kelompok-kelompok
yang lebih kecil. Ini semua bertujuan untuk memudahkan penyimpanan dan pencarian
informasi dalam otak kita. Perilaku ini juga terjadi pada produk ataupun merek.
Persoalan lain timbul menyangkut biaya beriklan di
Google. Kalau Anda melihat PPC di Google yang hanya 2,5 sen, saya jamin Anda
akan berkata “Wah murah sekali beriklan di Google”, dan buru-buru menetapkan
total klik yang tinggi. Tapi Anda juga harus Ingat bahwa, agar dapat men-generate klik yang berujung pada peningkatan
kunjungan di situs Anda, berarti iklan Anda harus berada pada posisi yang strategis.
Kalau tidak, jangan berharap akan terjadi klik pada iklan Anda. Kalau ada lima
posisi strategis seperti yang telah diterangkan diatas, Anda harus berjuang
merebut posisi tersebut dengan cara bidding,
berarti Anda harus mengeluarkan uang lebih banyak.
PPC tertinggi yang pernah dibayar pengiklan untuk
Adwords di Google adalah US$ 19 (sekitar Rp. 171 ribu). Untuk meningkatkan
peluang klik pada iklan, Anda juga harus menentukan total klik yang tinggi pula.
Kalau Anda menetapkan 100 klik saja, berarti total yang harus Anda bayar adalah
Rp. 171.000 x 100 = Rp. 17.100.000. Ini pun masih belum dapat mmberikan jaminan
bahwa iklan Anda akan di klik. Karena konsentrasi user tertuju pada hasil
pencarian.
Kalau saja Google mengijinkan pemasangan iklan
visual (banner), Anda masih bisa bersenang hati, karena eksposur akan terjadi
lewat visual yang ditampilkan, dan Anda sebagai pemasang iklan masih bisa
berharap pengunjung akan mengingat pesan yang Anda sampaikan, meskipun tidak
melakukan klik. Tapi bagaimana dengan iklan teks? Seberapa kuat stopping powernya? Mampukah teks
menciptakan awareness dalam dua
detik? Saya tidak percaya itu dapat dilakukan oleh iklan teks.
Keadaan akan semakin buruk ketika ada pengiklan
lain yang mampu membayar lebih mahal. Kontan saja posisi iklan Anda akan
merosot. Kemungkinan terburuk lainnya adalah, kenyataan bahwa Google tidak akan
segan-segan mendepak iklan-iklan yang dinilai tidak efektif. Penilaian ini
ditentukan berdasarkan Click Through Rate
(CTR). Jika CTR-nya rendah maka Google akan menghapus iklan Anda, dan ucapkan
wassalam pada uang yang telah Anda keluarkan.
Semakin rendah Anda membayar semakin rendah pula total
CTR Anda, semakin besar pula kemungkinan Anda untuk di tendang oleh Google.
Keadaan buruk masih akan berlangsung dengan terungkapnya fakta bahwa tingginya
user di Google tidak berakibat pada tingginya CTR pada iklan.
Sebuah studi yang dilakukan iMediaconnection.com
selama empat tahun, membuktikan bahwa, dari lima juta user yang melakukan
pencarian di Google, ternyata hanya mampu men-generate 40.000 klik (tidak sampai satu persennya). Hasil studi
yang sama juga didapat oleh Newmedia, sebuah konsultan online media placement
yang berbasis di Thailand. Mereka mengatakan bahwa CTR hanya mencapai 1% dari
total kunjungan dari setiap situs di seluruh dunia.
Apa masih mau berorientasi pada klik? Iklan kan
juga untuk dilihat. Iklan TV unutk dilihat dan didengar, iklan radio untuk
didengar, billboard untuk dilihat, iklan imedia cetak juga untuk dilihat.
Sebuah kesalahan besar jika penempatan iklan di internet diukur berdasarkan
klik yang didapat.