Wimode : Sampah Seharga Rp 599 ribu

September 16th, 2007 by dausvisualdesigner07

Awalnya saya tertarik memiliki wimode karena fleksibilitasnya.
Maksudnya agar saya bisa nge-net dimana saja. Biayanya pun kalo
dihitung-hitung lebih murah, ditambah mobilitasnya, barang yang kini
saya anggap sampah ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Beberapa
minggu pertama, wimode memang menyenangkan, koneksinya pun lumayan.
Masalah mulai terjadi ketika saya hijrah dari pra bayar ke pasca bayar.
Maksudnya supaya lebih ekonomis. Ternyata perpindahan account
menimbulkan kendala. Tiba-tiba saya tidak bisa browsing. Setelah
melapor sebanyak empat kali akhirnya persoalan pun selesai.

Pelayanan
Esia tak bisa saya bilang buruk. Mereka memperhatikan keluhan saya
dengan sungguh2 dengan nada yang sangat sopan, meskipun setelah empat
kali, baru persoalannya selesai.

Penggunaan wimode saya
teruskan, sampai dua minggu terakhir ini koneksi mulai ancur-ancuran.
DU meter saya hanya menunjukkan 0,1 sampai 1,5 kB/sec. Ini bukan
koneksi yang saya harapkan. Ini sudah mengganggu pekerjaan saya yang
sangat tergantung dengan internet. Hingga tulisan ini saya buat,
koneksi wimode saya masih parah.

Yang lebih menyebalkan, setiap
kali saya menghubungi esia untuk melaporkan keluhan saya, pihak esia
hanya menyuguhkan saya dengan lagu-lagu yang mereka gunakan sebagai
nada tunggu. Lagunya tak pernah selesai karena selalu diakhiri dengan
nada sibuk.

Niat saya, kalau Customer Service Wimode berhasil
saya hubungi, saya akan minta koneksi yang cukup saja. Mereka bilang
koneksi Wimode bisa mencapai diatas 40 kB/sec. Gak usah muluk-muluk
lah, kalau bisa 20 kB/sec dengan keadaan stabil saja sudah sukur.
Koneksi Wimode belakangan juga suka putus tiba2, entah kenapa. Saya
juga akan minta solusi alternatif. Sukur-sukur kalau mereka mau
mengembalikan uang pembelian Wimode saya.

Saya jadi bingung,
apa saya harus membayar koneksi yang lemotnya minta ampun ini.
Sekarang, jujur saja wimode saya lihat sepeti sampah dengan harga yang
cukup mahal.

Saya tak tahu apakah sebenarnya pihak Esia telah
siap menjalani bisnis internet atau belum. Kalau ternyata belum siap,
kenapa mereka melempar produknya ke pasar ?

Karena Kita Tak Membelah Diri

September 13th, 2007 by dausvisualdesigner07

Saya sebenarnya tak terlalu memahami apa saja yang menjadi fitrah manusia. Hasil diskusi dengan beberapa teman membawa saya pada kesimpulan bahwa, fitrah bisa jadi hal-hal mendasar yang ditakdirkan atas diri kita. Sejak manusia terlahir kebumi, ia diikuti dengan berbagai kebutuhan mendasar.

Bagaimana dengan menikah ? apakah hidup berpasangan merupakan fitrah manusia. Kenapa hidup kumpul kebo tanpa ikatan perkawinan tetap saja membuat resah dan jiwa terasa kering ? Apakah perkawinan itu sendiri merupakan fitrah, bukan cuma kebutuhan sexnya saja?

Akan ada banyak alasan kenapa orang akhirnya menikah. Cinta, kejar setoran karena umur semakin tua, menyenangkan hati orang tua, ibadah, kita akan terus saja melihat orang mengumpulkan alasan-alasan mengapa mereka harus menikah.

“Karena kita tak membelah diri”, ini alasan saya ketika ditanya seorang teman, kenapa saya ingin menikah. Kenapa Tuhan tidak menciptakan manusia dengan kemampuan membelah diri seperti sel, agar dapat berkembang biak? Kenapa kita membutuhkan lawan jenis kita sebagai pasangan hidup untuk dapat berkembang biak ? Ternyata manusia tak dibiarkan menjadi makhluk yang independen.

Lalu apa pentingnya manusia berkembang biak ? Setahu saya, manusia itu memiliki kebutuhan untuk bertahan hidup. Karenanya manusia harus hidup sebagai komunal. Ia harus membangun kelompoknya. Semakin besar kelompoknya, semakin tinggi pula kemampuannya untuk bertahan hidup.

Mungkin itu satu-satunya alasan yang saya punya sekarang, kenapa saya harus menikah adalah karena saya tak memiliki kemampuan membelah diri. Saya harus mampu bertahan dalam hidup. Dan cara paling efektif adalah hidup dalam kelompok saya sendiri, kelompok yang saya bangun berdasarkan ikatan darah. Semakin besar kelompok yang dapat saya bangun semakin tinggi pula kemampuan saya untuk bertahan hidup.

Reverse Band Hadirkan Liberalisme Lewat Blind Spot

August 28th, 2007 by dausvisualdesigner07

Saya tak mengerti
bagaimana menilai sebuah karya musik atau musikalitas sebuah grup band. Sebagai
penikmat musik, saya hanya mengandalkan rasa.

 
Jum’at lalu, 24/08/07
saya mendapat kesempatan untuk menikmati pagelaran musik bertajuk “Farabi Music Day”. Acara ini
diselenggarakan dalam rangka pembuatan album kompilasi dari murid-murid sekolah
musik Farabi.

 
Proses seleksi
dilakukan dengan cara kompetisi. 10 pemenang berhak mengisi album kompilasi
Farabi Music Day ke-2 ini. Grup Band yang tampil pada Jum’at lalu adalah mereka
yang berhasil lolos ke babak final.

 
Semua band yang
tampil memiliki gaya sendiri-sendiri, dan minat terhadap aliran musik yang
mereka sukai. Mereka tampil dihadapan Dwiki Darmawan, Bens Leo, dan Ubied
sebagai juri. Para juri inilah yang menilai sekaligus memberikan komentar atas
penampilan mereka. Mirip seperti American Idol, dimana peserta dikomentari dan
dikritik.

 
Dari semua band
yang tampil, hanya Reverse Band yang mampu membuat para juri mengangguk-anggukan
kepala. Reverse hadir menampilkan warnanya sendiri. Kebetulan ketiga awak
Reverse Band adalah teman main saya. Studio milik Insan, gitaris Reverse adalah
tempat nongkrong saya dan teman-teman dirumah.

 
Tulisan saya ini
bisa jadi merupakan penilaian yang subyektif terhadap sebuah karya musik. Tapi
melihat reaksi para juri, saya pikir Reverse adalah kelompok musik yang perlu
mendapat perhatian. Mereka masih muda dengan kemampuan bermain musik yang
matang.

 
Saya tak paham
ketika Dwiki mengatakan dari “4/4 terus ke 7/8”. Yang jelas ketua juri
sekaligus pemilik Farabi itu mengatakan bahwa, Reverse telah berani tampil beda.
“Permainan mereka lebih dewasa dari usia mereka”. Ubied yang juga ikut
manggut-manggut ketika Reverse bermain, memberi komentar “Bermain musik nggak cuma
pamer keahlian. Kesamaan rasa juga penting dalam bermusik. Reverse memiliki
itu.” Pujian berikut mengalir dari mulut Bens Leo. Sebagai pengamat industri
musik, ia menganggap industri musik di tanah air perlu keragaman warna.
Musik-musik seperti yang diramu Insan (gitar), Shadu (bass), dan Andre (drum) ini
akan memberi warna tersendiri. “Soal balance, band ini memiliki balance yang
paling baik dibanding band yang lain,” ujar Bens mengomentari permainan band yang
memilih bermain diwilayah instrumental ini.

 
Saya sendiri
merasa bahwa gubahan Reverse yang berjudul “Blind Spot” terasa sangat berwarna,
liberal dan kompak. Saya tak menerti soal teknis, dan aliran apa yang diusung
oleh Reverse. Yang jelas setiap kali mendengar Blind Spot saya spontan
manggut-manggut seperti yang terjadi pada ketiga juri di pagelaran Farabi Music
Day tersebut. Iramanya membakar semangat. Saya percaya intelektualitas punya
peran sangat besar dalam musik mereka.

 
Sayangnya racikan
Reverse yang berjudul “Morning Steam” tak ikut diperdengarkan. Komposisi Morning
Steam memiliki kelembutan dan keanggunan.

 
Dalam gelaran
tersebut, Reverse berhasil menggondol gelar Juara pertama, dan dianugerahi
sebagai kelompok musik dengan komposisi terbaik, plus masuk kedalam album kompilasi
Farabi Music Day ke-2.

 
Selama semangat
tidak melorot, saya yakin Reverse bisa berhasil.

 
Bravo !       

Consumers Rule

August 27th, 2007 by dausvisualdesigner07
                                               

Sulit
untuk menebak keajaiban apa lagi yang akan dibawa internet dimasa
mendatang. Dan seberapa cepat perubahan yang akan terjadi? Langkah
antisipasi harus diambil. Supaya tidak babak belur ketika terjadi
migrasi besar-besaran ke internet. Migrasi yang terjadi mungkin belum
seperti yang terjadi di negara-negara maju, tapi pasti akan sampai
kesitu.
New
York Times harus memangkas 600 orang karyawannya dan mengganti sebagian
besar biro perwakilannya di Eropa dengan laptop base reporter (lama
kelamaan media tak perlu lagi punya kantor). Media tersebut kemudian
mengumumkan bahwa, kini fokus utama pemberitaan New York Times ada di
website Nytimes.com. LA Times menyusul. Beberapa bulan lalu media ini
juga telah mengumumkan bahwa konsentrasi konten mereka ada di
LAtimes.com. Versi cetak Elle Girl malah sudah diberangus dan beralih
sepenuhnya ke website. 
Dengan
masuknya Telkom dalam keanggotaan konsorsium Asia-America Gateway (AAG)
maka operator ini akan memiliki kuota bandwidth sebesar 30 Gb/s atau
meningkat 15 kali lipat dari kuota yang dimiliki sekarang. Dan
rencananya akan direalisasikan pada akhir 2008. Ini akan berdampak
langsung dengan pertumbuhan pengguna internet di Indonesia. Dan akan
memperbaiki peringkat negara ini yang saat ini berada pada urutan 13
sebagai negara dengan pengguna internet terbesar di dunia.

Saya
yakin Telkom sebagai salah satu perusahaan penyedia layanan internet
tak akan tinggal diam. Mereka harus memperluas pasarnya.  

Saya
pikir setiap pemilik ataupun pengelola merek harus bersiap-siap. Tapi
melihat jangka waktu satu tahun, kok rasanya sudah terlambat. Untungnya
sebagian besar merek di Indonesia belum mengambil langkah-langkah yang
cukup berarti yang terkait dengan strategi mereka di internet. Beberapa
merek FMCG (Fast Moving Consumer Goods) telah ambil inisiatif lebih
dulu. Merek otomotif adalah yang paling lambat mengantisipasi
perkembangan internet.
Paling
tidak dibutuhkan waktu dua sampai tiga tahun untuk mempelajari perilaku
pengguna internet di Indonesia. Brand harus melewati tahap trial and
error agar dapat berhasil. Namun jika tidak mulai lebih cepat, maka
mereka akan terengah-engah mengejar ketinggalan. Karena selama proses
trial and error itu, teknologi-teknologi baru akan bermunculan.
Cara-cara baru dalam berinteraksi di dunia maya akan ditemukan. Format
pemasangan iklan yang lebih baik juga akan hadir dalam industri media
online. Dan konsumen semakin berdaulat.
Ad
placement yang berantakan dan menimbulkan clutter seperti di detik.com
akan menjadi bumerang bagi merek dan media itu sendiri. Paling tidak
itu yang dikatakan Randy Falco, CEO dan Chairman AOL.com. Setelah
sekitar 33 tahun mengurus stasion TV NBC, Falco beralih ke internet.
Menurut Falco, “Interuptive ad is deadly”. Dan ini
terlihat jelas di internet. Sayangnya, media online milik orang-orang
iklan pun menerapkan format ad placement yang serupa. Lihat saja
Adoi.com atau TVConair.com dengan layout penempatan iklannya yang
berjajar mengitari konten. Hanya saja mereka jauh lebih rapih (bukan
asal tempel).
Keadaan
semakin parah dengan acuhnya media planner terhadap teknologi internet.
Sebagai pihak yang membelanjakan uang klien, mereka seharusnya berpikir
bersama-sama dengan pihak media, bagaimana menciptakan sebuah standard
Ad model. Baik dalam penempatan maupun format iklan yang digunakan.
Dengan adanya standardisasi, strategi media akan lebih mudah
direncanakan dan diukur. Pihak media juga harus rajin melakukan
pendidikan kepada pengiklan dan berpikir aktif dalam menemukan solusi
terbaik untuk pengiklan dan media itu sendiri.
Cara
penempatan iklan harus win-win, tidak menimbulkan clutter sehingga
membunuh keduabelah pihak (brand dan media). Ciptakan Ad network yang
utuh di media online untuk mencapai efektifitas dan efisiensi.
Kembangkan sebuah teknolgi sebagai alat ukur di media online. Karena
iklan hanya akan menjadi mahal jika ia tidak efektif.
Belum
lagi pemilik merek yang mindset media konvensionalnya masih dipakai
dalam menempatkan iklan di internet. Hampir semua pengiklan sangat
bertele-tele dalam menyampaikan pesannya. Tak ada tujuan yang jelas
dalam iklan-iklan mereka. Padahal iklan di internet dapat berupa apa
saja. Dari gambar hingga aplikasi. Pngiklan harus lebih berhati-hati
dengan cara penempatan iklan di internet. Iklan harus mampu menarik
simpati audience.
Kalau
mereka masih bingung bagaimana beriklan di internet, apalagi bicara
soal keutuhan dari kampanye iklan. Tak perlu bicara Advertising ROI.
Karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Tergantung tujuannya. ROI
bisa berupa data yang berhasil diperoleh dari kegiatan riset, hingga
tercapainya target penjualan. Lakukan riset. Esensi marketing itu
riset.
Be creative ! kembangkan cara-cara baru untuk menciptakan consumer engagement. Libatkan konsumen dalam kegiatan pemasaran. “Listen to the consumer. Connect with them !”,
papar Randy Falco dalam advertising summit yang diselenggarakan
iMediaconnection. Era internet adalah era dimana konsumen memiliki
kedaulatan penuh dalam menentukan pilihan. Dilarang keras membodohi
konsumen ! Atau merek dan perusahaan itu sendiri yang akan menanggung
akibatnya. Mungkin Dell computer yang babak belur akibat serangan
blogger bisa jadi contoh.
Selamat datang di era konsumen. Consumers rule !

   

Be prepare for the mobile media !

   

Playboy Launches Social Network

August 27th, 2007 by dausvisualdesigner07

Coke launched Sprite Yard, a social networking site for mobile users, while Disney bought Club Penguin,
a site for children ages 6-14. Now Playboy is getting in on the action,
announcing its own social network site that will target college-age
adults.

Dubbed Playboy U, the ad-supported social network will go after male and female college students. 

Playboy
U puts the adult brand into competition with the likes of MySpace and
Facebook as it tries to overcome its struggle to return to
profitability in light of declining magazine sales and a slumping TV
business.

"It’s a very lucrative market," Michael Kelman, senior media analyst at Susquehanna Financial Group, told Reuters.
"The college kids, they’re going to be better-educated and have higher
disposable incomes. But it’s been a very, very tough audience to grab." 

The
site forbids nudity, but sex is defiantly front and center, with
message topics that include "What Do You Think About Penis Enlargement"
and "How Many People Have You Slept With?"

According to
officials at Playboy, the site will enable the brand to build a
long-lasting relationship with its readers and fans.

"This is
one brand that is relevant to 18 through 81-year-olds," said Scott
Stephen, executive vice president of operations for Playboy’s
entertainment division. "We’re looking at this as a way to introduce
and escort someone through their adult life."

Dunia Proaktif Bagi Brand

June 9th, 2007 by dausvisualdesigner07

Para pemasar dan pengiklan menghadapi tantangan yang lebih berat dalam menjangkau konsumen saat ini, di era pertumbuhan lansekap media yang sangat cepat ini.

Pada iMedia Break Through Summit 2007 Maria Mandel, Executive Director of Digital Inovation Ogilvy Interactive menyampaikan pendapatnya tentang bagaimana caranya terlibat dan berinteraksi dengan konsumen dari sudut pandang mereka sendiri, dengan berbagai pendekatan yang efektif dalam membangun merek sekaligus mengembangkan hubungan dengan konsumen yang dinggapnya sangat penting.

Dalam keempatan itu juga Mandel menekankan bahwa saat ini konsumen adalah pihak yang memegang kendali, dan mereka juga yang menentukan apakah mereka ingin berinteraksi dengan sebuah brand atau konten.

Menurut wanita yang tugasnya memberikan konsultasi diseluruh Ogilvy grup ini, masa diamana TV mendominasi lansekap media telah berlalu. Kini belanja iklan telah dialokasikan kepada bentuk media yang berbeda, bersamaan dengan tumbuhnya penggunaan DVRs. Ia juga mengatakan bahwa, sekitar 60 peren konsumen berada di area yang disebut sebagai time-shifted environment, dan sekitar 92 persen bujet iklan-iklan di televisi terbuang percuma akibat perilaku channel switching.

Dalam lingkungan proaktif-media seperti sekarang, dan juga melalui user-generated sites seperti YouTube dan MySpace, konsumen lebih mudah dikendalikan atau bahkan menjadi loyal terhadap format media interaktif seperti ini, dimana mereka dapat mengekspresikan identitas mereka, bergabung dengan komunitas yang sesuai dengan minat mereka dan terikat pada berbagai merek untuk mendapatkan informasi ataupun hiburan dalam pengertian mereka sendiri.

Bersamaan dengan perubahan tersebut, metode baru juga turut dikembangkan, seperti; cara baru dalam mendistribusikan, perangkat baru, konten dengan format baru, diikuti bentuk iklan yang anyar, sampai dengan standard pengukuran yang harus mengalami transformasi.

Yang harus digaris bawahi, menurut Mandel, media saat ini begitu fleksibel bahkan sangat cair dan siap untuk menyajikan konten yang sifatnya last-minute. Belum pernah sebelumnya dimana kreatifitas dan inovasi lah yang secara langsung menjadi pemasar dari sebuah merek sekaligus alat yang paling bernilai bagi pengiklan.

“Ketika Anda menawarkan sesuatu, percakapannya berubah”, kata Mandel. Melangkah lebih jauh lagi tentang lansekap media, Mandel melihat bahwa pengalaman bermain dengan multiplayer gaming yang digunakana secara luas, telah mencipatakan jembatan antara dunia maya dengan dunia nyata. “Ini merupakan evolusi lingkup kreatifitas yang saling berhubungan,” Mandel menambahkan. Ia juga melihat bahwa banyak industri yang kini mulai mengintegrasikan brand mereka dengan situs yang menjangkau penggemar sports, belanja online, dan testdrive virtual.

“Namun persoalannya adalah, bagaimana anda dapat menjangkau khalayak?” tanya Mandel kepada peserta Summit. “Apa kendaraan yang paling efektif bagi merek dan hubungannya dengan menciptakan hubungan dengan konsumen,” tanyanya lagi lebih jauh.

Dalam acara tersebut Mandel mengungkapkan apa yang ia sebut sebagai survival strategies hasil eksploarasinya yang juga disertai kampanye sukses memanfaatkan kreatifitas dan inovasi agar dapat berinteraksi dengan konsumen sesuai dengan pemahaman konsumen itu sendiri.

Menjadi Story Teller yang Lebih Baik

Konsumen akan ebih memperhatikan kampanye iklan yang bersifat menghibur. Mandel memberikan contoh iklan Jerry Seinfeld-Superman-American Express yang sangat sukses berkat keutuhan promotion tools yang digunakan secara online dan offline. Kampanye tersebut bahkan berhasil menjadi salah satu komik fovorit di Amerika. Contoh lainnya adalah kampanye "Brawny Academy" yang terdapat di reality TV, dimana iklan tersebut berhasil meleburkan Brawny handuk kertas dengan dengan alur cerita.

Ciptkan interaksi

Ketimbang membawa konsumen kepada rangkaian kampanye, lebih baik merek yang secara aktif terlibat dengan komunitas yang sudah ada, yang memberikan pengalaman interaktif kepada setiap anggota komunitas tersebut. Untuk hal ini mandel menggunakan kampanye IBM Codestation karya Ogilvy sebagai contoh. Berdasarkan studi yang dilakukan ia menemukan bahwa orang yang banyak tergabung dalam komunitas adalah para pengembang software, untuk itu Ogilvy menyatukan kampanyenya dengan komunitas mereka dimana mereka dapat terhubung dengan produk IBM.

Mandel juga menekankan pentingnya memadukan teks dalm sebuah kampanye. Hal ini ia lihat dari kesuksesan kampanye Dove dalam bentuk Billboard yang terdapat di NewYork’s Time Squere yang mampu mendorong konsumen untuk memberikan reaksi ketika mereka melihat gambar seorang perempuan yang lebih tua.

Buat Mereka Bicara

Program viral yang sukses dapat membawa sebuah brand meraih kesuksesan yang luar biasa. Mandel menggunakan kampanye "Shave Everywhere” sebagai contoh. Ia juga menggunakan iklan TV Dove, Evolution yang awalnya ditujukan untuk workshop pengembangan kepribadian dan kini justru terpasang di YouTube dan terbukti lebih sukses daripada iklan Super Bowl buatan Ogilvy. Ini membuktikan bahwa iklan yang bagus akan memperpanjang masa pengenalan merek jika dapat berinteraksi dengan konsumen.

Sebagai penutup Mandel menyampaikan tiga komponen kunci agar bisa menang di ruang interaktif:

1. On Demand:

Berikan informasi yang relevan jika berhadapan dengan konsumen, kapan dan dimana mereka menginginkan hal tersebut.

2. Enterteintment:

Manfaatkan hiburan untuk menciptakan hubungan dengan konsumen.

3. Community :

Masyarakat menggunakan teknologi digital untuk berkomunikasi, dan merek harus menjadi bagian dari percakapan tersebut.

“ Dalam duia seperti sekarang, Anda harus melakukan sesuatu agar konsumen mau mengundang Anda dan setuju untuk berinteraksi dengan merek Anda,” tutup Mandel.

“Kerja itu cuma selingan, Untuk menunggu waktu shalat…”

March 30th, 2007 by dausvisualdesigner07

Ketika Pak Heru, atasan saya, memerintahkan untuk mencari klien yang
bergerak di bidang interior, seketika pikiran saya sampai kepada Pak Azis.
Meskipun hati masih meraba-raba, apa mungkin Pak Azis mampu membuat kios
internet, dalam bentuk serupa dengan anjungan tunai mandiri dan dari kayu
pula, dengan segera saya menuju ke bengkel workshop Pak Azis.

Setelah beberapa kali keliru masuk jalan, akhirnya saya menemukan bengkel
Pak Azis, yang kini ternyata sudah didampingi sebuah masjid. Pak Azispun
tampak awet muda, sama seperti dulu, hanya pakaiannya yang sedikit
berubah. Kali ini dia selalu memakai kopiah putih. Rautnya cerah, fresh,
memancarkan kesan tenang dan lebih santai. Beungeut wudhu-an ( wajah sering
wudhu), kata orang sunda. Selalu bercahaya.

Hidayah Allah ternyata telah sampai sejak lama, jauh sebelum Pak Azis
berkecimpung dalam berbagai dinamika kegiatan Islam. Hidayah itu bermula
dari peristiwa angin puting-beliung, yang tiba-tiba menyapu seluruh atap
bengkel workshop-nya, pada suatu malam kira-kira
lima tahun silam. "Atap rumah saya tertiup angin sampai tak tersisa
satupun. Terbuka semua." cerita Pak Azis."Padahal nggak ada hujan, nggak
ada tanda-tanda bakal ada angin besar. Angin berpusar itupun cuma sebentar
saja."

Batin Pak Azis bergolak setelah peristiwa itu. Walau uang dan pekerjaan
masih terus mengalir kepadanya, Pak Azis tetap merasa gelisah, stres &
selalu tidak tenang. "Seperti orang patah hati, Ndra. Makan tidak enak,
tidur juga susah."cerita Pak Azis lagi.

Lama-kelamaan Pak Azis menjadi tidak betah tinggal di rumah dan stres.
Padahal, sebelum kejadian angin puting-beliung yang anehnya hanya mengenai
bengkel workshop merangkap rumahnya saja, Pak Azis merasa hidupnya sudah
sempurna. Dari desainer grafis hingga jadi arsitek. Dengan keserbabisaannya
itu, pak Azis merasa puas dan bangga, karena punya penghasilan tinggi. Tapi
setelah peristiwa angin puting-beliung itu, pak Azis kembali bangkrut,
beliau bertanya dalam hati : "apa sih yang kurang" apa salahku " ?

Akhirnya pak Azis menekuni ibadah secara mendalam "Seperti musafir atau
walisongo, saya mendatangi masjid-masjid di malam hari. Semua masjid besar
dan beberapa masjid di pelosok Bandung ini, sudah pernah saya inapi."
Setahun lebih cara tersebut ia jalani, sampai kemudian akhirnya saya bisa
tidur normal, bisa menikmati pekerjaan dan keseharian seperti sediakala.

"Bahkan lebih tenang dan santai daripada sebelumnya."
"Lebih tenang ? Memang Pak Azis dapet hikmah apa dari tidur di masjid itu
?"

"Di masjid itu ‘kan tidak sekedar tidur, Ndra. Kalau ada shalat malam, kita
dibangunkan, lalu pergi wudhu dan tahajjud. Karena terbiasa, tahajjud juga
jadi terasa enak.
Malah nggak enak kalau tidak shalat malam, dan shalat-shalat wajib yang
lima itu jadi kurang enaknya, kalau saya lalaikan. Begitu, Ndra."

"Sekarang tidak pernah terlambat atau bolong shalat-nya, Pak Azis ?"

"Alhamdulillah. Sekarang ini saya menganggap bhw yg utama itu adalah
shalat. Jadi, saya dan temen-temen menganggap kerja itu cuma sekedar
selingan aja."

"Selingan ?"

"Ya, selingan yang berguna. Untuk menunggu kewajiban shalat, Ndra."

Untuk beberapa lama saya terdiam, sampai kemudian adzan ashar mengalun
jelas dari masjid samping rumah Pak Azis. Pak Azis mengajak saya untuk
segera pergi mengambil air wudhu, dan saya lihat para pekerjanyapun sudah
pada pergi ke samping rumah, menuju masjid. Bengkel workshop itu menjadi
lengang seketika. Sambil memandang seluruh ruangan bengkel, sambil berjalan
menuju masjid di samping workshop, terus terngiang-ngiang di benak saya :
"Kerja itu cuma selingan, Ndra. Untuk menunggu waktu shalat…"

Sepulangnya dari tempat workshop, sambil memandang sibuknya lalu lintas di
jalan raya, saya merenungi apa yang tadi dikatakan oleh Pak Azis. Sungguh
trenyuh saya, bahwa setelah perenungan itu, saya merasa sebagai orang yang
sering berlaku sebaliknya. Ya, saya lebih sering menganggap shalat sebagai
waktu rehat, cuma selingan, malah saya cenderung lebih mementingkan
pekerjaan kantor. Padahal
sholat yang akan bantu kita nantinya…(-sungguh saya orang yang merugi..)

Kadang-kadang waktu shalat dilalaikan sebab pekerjaan belum selesai, atau
rapat dengan klien
dirasakan tanggung untuk diakhiri.
Itulah penyebab dari kegersangan hidup saya selama ini. Saya lebih semangat
dan habis-habisan berjuang meraih dunia, daripada mempersiapkan bekal
terbaik untuk kehidupan kekal di akhirat nanti.
padahal dunia ini akan saya tinggalkan..-juga ……….kenapa saya begitu
bodoh..

Saya lupa, bahwa shalat adalah yang utama.
Mulai saat itu saya berjanji untuk mulai shalat di awal waktu..

Malaysia Dikeroyok Blogger, Pelajaran Penting CyberPR

March 29th, 2007 by dausvisualdesigner07

Jika Anda seorang petinggi negara, figur publik,
CEO atau manajer Public Relation sebuah perusahaan, perhatikan
baik-baik kasus menarik berikut ini. Gara-gara respon pemerintah yang
salah terhadap keluhan pribadi (ya, pribadi) seorang seorang presenter
acara SCTV yang diundang pemerintah Malaysia untuk meliput, negara
jiran ini menoreh noda hitam dalam dunia kehumasan. Bukan citra positif
yang diunduh, alih-alih malah dapat ganjaran viral marketing negatif
melalui blog dan media online.

Ini runtutan kisahnya yang saya pantau dari sekian banyak tulisan baik
di blog maupun media, yang terjadi sejak akhir Januari lalu dan meledak
Maret ini:

- Sebanyak 170 jurnalis di seluruh dunia, termasuk Indonesia,
diundang ke Malaysia dalam rangka pembukaan Festival Bunga 2007, yang
merupakan bagian dari acara Visit Malaysia 2007. Harapannya, tentu saja
media yang diundang menulis yang baik-baik mengenai Malaysia agar
kunjungan wisata ke negeri itu meningkat.

- Salah satu yang berangkat ke sana Nila Tanzil, mewakili SCTV. Ia adalah host dari acara Melancong Yuk.

- Wanita cantik ini kecewa karena layanan Malaysia dianggap buruk.
Ia tidak bisa memotret dan merekam objek yang ia kehendaki. Minta izin
merekam pun dipingpong ke sana kemari.

- Sepulang dari Malaysia, ia menuliskan kekesalan pribadinya di blog. Isinya: Ia mengakui keindahan Malaysia, namun sekaligus mengeluhkan pemerintah Malaysia ndak becus mengelola acara itu.

- Tulisan itu kemudian diposting juga di blog Maverick, tempat ia bekerja sebagai konsultan humas.

- Karena blog Maverick yang berbahasa Inggris itu cukup terkenal di
kalangan media, maka menyebarlah ke blogger Malaysia, dan kemudian
entah bagaimana caranya tulisan negatif terbaca oleh Menteri Pariwisata
Malaysia Tunku Adnan .

- Tersinggung dengan keluhan itu, sang Menteri pun mengeluarkan
statemen: semua blogger itu penipu, dan 80 persen di antaranya adalah
perempuan yang tak bekerja alias penganggur.

- Celakanya statemen negatif (mencela, menghina, merendahkan para
blogger dan wanita) itu dimuat di media cetak (berbahasa Cina).

- Hasilnya bisa diduga: ucapan gebyah uyah sang menteri justru
menambah musuh baru, memperkuat citra negatif Malaysia, bahkan memicu
isu lain (bahwa rakyat Malaysia tidak punya kebebasan bicara sebagai
mana halnya di Indonesia), sekaligus mempererat tali komunikasi para
blogger. Entah energi apa yang menggerakkannya, sekian banyak blogger
membela Nila dengan tulisan khusus, termasuk diantaranya: Pecas Ndahe.
Bahkan Detikcom pun terpancing menulis tiga liputan mengenai hal ini.
Sementara blogger Malaysia mengeluhkan ucapan pemimpinnya yang kurang
pantas. Lihat blog Elizabeth, Ranting, atau Michael Yip. Yang lainnya, simak saja di blog Nila sendiri.

Tuan-tuan petinggi negara, figur publik, CEO sebuah perusahaan, atau
manajer Public Relation, sementara lupakan dulu apakah etis atau tidak
Nila yang dipercaya SCTV sebagai profesional menulis hal pribadi
semacam itu di blog. Yang jelas tuan-tuan semua sedang menghadapi era
baru kehumasan. Saat ini sedang merebak media-media baru yang dapat
dimiliki orang setiap orang. Media baru itu, antara lain bernama BLOG.
Inilah tempat paling asyik mengutarakan segala macam hal tanpa harus
dibatasi aturan. Jika tuan-tuan dulu dengan ilmu Media Relation mampu
mengelola hubungan baik dengan media tradisional seperti TV, cetak,
radio, bahkan juga dengan media online, kini tuan-tuan menghadapi
mahluk baru bernama Consumer Generated Media. Blog salah satunya.

Yakinlah, jika tuan-tuan mengelola media baru ini dengan cara kuno
seperti yang dilakukan tuan dari negeri seberang, maka tuan akan menuai
badai seperti yang dirasakan tuan Adnan.

Apa yang saya tulis September tahun lalu kini dirasakan oleh Malaysia. Simak lagi tulisan saya mengenai Sadarlah Wahai Para Pemasar dan Pehumas, Kini Anda Menghadapi Konsumen dan Publik Langsung.

Tuan-tuan, selamat datang di dunia digital.

Dunia Proaktif Bagi Brand

March 28th, 2007 by dausvisualdesigner07

Para pemasar dan pengiklan menghadapi tantangan yang lebih berat dalam menjangkau
konsumen saat ini, di era pertumbuhan lansekap media yang sangat cepat ini.

 

Pada iMedia Break Through Summit
2007 Maria Mandel, Executive Director of
Digital Inovation
Ogilvy Interactive menyampaikan pendapatnya tentang
bagaimana caranya terlibat dan berinteraksi dengan konsumen dari sudut pandang
mereka sendiri, dengan berbagai pendekatan yang efektif dalam membangun merek
sekaligus mengembangkan hubungan dengan konsumen yang dinggapnya sangat
penting.


Dalam keempatan itu juga Mandel
menekankan bahwa saat ini konsumen adalah pihak yang memegang kendali, dan
mereka juga yang menentukan apakah mereka ingin berinteraksi dengan sebuah
brand atau konten.


Menurut wanita yang tugasnya
memberikan konsultasi diseluruh Ogilvy grup ini, masa diamana TV mendominasi
lansekap media telah berlalu. Kini belanja iklan telah dialokasikan kepada
bentuk media yang berbeda, bersamaan
dengan tumbuhnya penggunaan DVRs. Ia juga mengatakan bahwa, sekitar 60 peren
konsumen berada di area yang disebut sebagai time-shifted environment, dan sekitar 92 persen bujet iklan-iklan
di televisi terbuang percuma akibat perilaku channel switching.


Dalam lingkungan proaktif-media
seperti sekarang, dan juga melalui user-generated
sites
seperti YouTube dan MySpace, konsumen lebih mudah dikendalikan atau
bahkan menjadi loyal terhadap format media interaktif seperti ini, dimana
mereka dapat mengekspresikan identitas mereka, bergabung dengan komunitas yang
sesuai dengan minat mereka dan terikat pada berbagai merek untuk mendapatkan
informasi ataupun hiburan dalam pengertian mereka sendiri. 

 

Bersamaan dengan perubahan
tersebut, metode baru juga turut dikembangkan, seperti; cara baru dalam
mendistribusikan, perangkat baru, konten dengan format baru, diikuti bentuk
iklan yang anyar, sampai dengan standard pengukuran yang harus mengalami transformasi.


Yang harus digaris bawahi,
menurut Mandel, media saat ini begitu fleksibel bahkan sangat cair dan siap
untuk menyajikan konten yang sifatnya last-minute.
Belum pernah sebelumnya dimana kreatifitas dan inovasi lah yang secara langsung
menjadi pemasar dari sebuah merek sekaligus alat yang paling bernilai bagi
pengiklan.


“Ketika Anda menawarkan sesuatu,
percakapannya berubah”, kata Mandel. Melangkah lebih jauh lagi tentang lansekap
media, Mandel melihat bahwa pengalaman bermain dengan multiplayer gaming yang digunakana secara luas, telah mencipatakan
jembatan antara dunia maya dengan dunia nyata.  “Ini merupakan evolusi lingkup kreatifitas
yang saling berhubungan,” Mandel menambahkan. Ia juga melihat bahwa banyak
industri yang kini mulai mengintegrasikan brand mereka dengan situs yang menjangkau
penggemar sports, belanja online, dan testdrive virtual.


“Namun persoalannya adalah,
bagaimana anda dapat menjangkau khalayak?” tanya Mandel kepada peserta Summit.
“Apa kendaraan yang paling efektif bagi merek dan hubungannya dengan
menciptakan hubungan dengan konsumen,” tanyanya lagi lebih jauh. 


Dalam acara tersebut Mandel
mengungkapkan apa yang ia sebut sebagai survival
strategies
hasil eksploarasinya yang juga disertai kampanye sukses
memanfaatkan kreatifitas dan inovasi agar dapat berinteraksi dengan konsumen
sesuai dengan pemahaman konsumen itu sendiri.


Menjadi Story Teller yang
Lebih Baik

Konsumen akan ebih memperhatikan kampanye iklan yang
bersifat menghibur. Mandel memberikan contoh iklan Jerry
Seinfeld-Superman-American Express yang sangat sukses berkat keutuhan promotion
tools  yang digunakan secara online dan
offline. Kampanye tersebut bahkan berhasil menjadi salah satu komik fovorit di
Amerika. Contoh lainnya adalah kampanye
"Brawny Academy"
yang terdapat di reality TV, dimana iklan tersebut berhasil meleburkan Brawny
handuk kertas dengan dengan alur cerita.


Ciptkan interaksi

Ketimbang membawa konsumen kepada
rangkaian kampanye, lebih baik merek yang secara aktif terlibat dengan komunitas
yang sudah ada, yang memberikan pengalaman interaktif kepada setiap anggota
komunitas tersebut. Untuk hal ini mandel menggunakan kampanye IBM Codestation
karya Ogilvy sebagai contoh. Berdasarkan studi yang dilakukan ia menemukan
bahwa orang yang banyak tergabung dalam komunitas adalah para pengembang
software, untuk itu Ogilvy menyatukan kampanyenya dengan komunitas mereka
dimana mereka dapat terhubung dengan produk IBM.


Mandel juga menekankan pentingnya memadukan teks
dalm sebuah kampanye. Hal ini ia lihat dari kesuksesan kampanye Dove dalam
bentuk Billboard yang terdapat di NewYork’s Time Squere yang mampu mendorong
konsumen untuk memberikan reaksi ketika mereka melihat gambar seorang perempuan
yng lebih tua.


Buat Mereka Bicara

Program viral yang sukses dapat
membawa sebuah brand meraih kesuksesan yang luar biasa. Mandel menggunakan kampanye
"Shave
Everywhere
” sebagai contoh. Ia juga menggunakan iklan TV Dove, Evolution yang
awalnya ditujukan untuk workshop pengembangan kepribadian dan kini justru terpasang
di YouTube dan terbukti lebih sukses daripada iklan Super Bowl buatan Ogilvy. Ini
membuktikan bahwa iklan yang bagus akan memperpanjang masa pengenalan merek
jika dapat berinteraksi dengan konsumen.


Sebagai penutup Mandel
menyampaikan tiga komponen kunci agar bisa menang di ruang interaktif:

1. On Demand: Berikan informasi yang relevan jika berhadapan
dengan konsumen, kapan dan dimana mereka menginginkan hal tersebut.

2. Enterteintment: Manfaatkan
hiburan untuk menciptakan hubungan dengan konsumen.

3. Community : Masyarakat
menggunakan teknologi digital untuk berkomunikasi, dan merek  harus menjadi bagian dari percakapan tersebut.

“ Dalam duia seperti sekarang,
Anda harus melakukan sesuatu agar konsumen mau mengundang Anda dan setuju untuk
berinteraksi dengan merek Anda,” tutup Mandel.

http://dproject18.multiply.com/journal/item/6

Iklan teks di Google, Skema Rebutan Posisi Terbaik

March 21st, 2007 by dausvisualdesigner07

Sejak awal, penemu, pengembang, sekaligus pemilik
Google tidak menginginkan adanya iklan sama sekali. Mualanya Google hanya
dibangun sebagai search engine yang dapat membaca konten dari sebuah situs. Itu
sebanya Google mampu memberikan hasil pencarian yang lebih komprehensif. Bahkan
Google juga membaca konten dari setiap inbox di Gmail.

 

Bersamaan dengan tingginya pencarian yang
dilakukan internet user menggunakan Google, permintaan untuk beriklan pun meningkat.
Akhirnya Google memutuskan untuk memuat iklan di mesin pencari dan email dalam
bentuk teks. Google memang menghindari iklan-iklan visual (banner) meskipun
iklan seperti ini sangat penting dalam strategi branding. Iklan teks di Google
ditampilkan bersamaan dengan hasil pencarian berdasarkan key word yang dimasukkan oleh user. Sementara iklan yang
ditampilkan di inbox email ditampilkan berdasarkan kata-kata yang terdapat
didalam inbox Anda. Jika terdapat kata ABC dalam inbox Anda, maka iklan yang
tampil adalah iklan yang memuat kata ABC.

 

Yang perlu menjadi catatan adalah, semua iklan
tersebut ditampilkan berurutan dari atas kebawah. Kita anggap saja ada lima
urutan. Pengiklan hanya dapat menampilkan iklannya pada posisi pertama jika ia
membayar lebih mahal dari pengiklan yang berada diposisi 2 dan begitu
seterusnya. Namun pengiklan yang berada di posisi 5 bisa saja menempati posisi
1 jika ia membayar lebih tinggi dari yang menempati posisi 1 sekarang. Cara ini
disebut bidding seperti pada
pelelangan, dimana barang akan dilepas kepada orang yang berani membayar paling
mahal.

 

Pemasangan iklan di Google menerapkan konsep PPC
(Pay Per Click). Biaya pemasangan iklan ditentukan berdasarkan PPC sebesar 2,5
sen (minimal), dan maksimal ditentukan sendiri oleh pengiklan. Jika pengiklan
menetapkan maksimal 100 click pada iklannya, maka biaya yang harus dibayar
adalah PPC x 100 atau 2,5 sen x 100 = US$ 2,5 (sekitar Rp. 18 ribu). Sejauh ini
biaya PPC terendah yang pernah dibayarkan oleh pengiklan adalah 5 sen dan tertinggi
sebesar US$ 19 (sekitar Rp. 171 ribu).

 

Semua angka-angka tersebut ditetapkan sendiri oleh
pengiklan ketika mendaftar secara online, kecuali biaya minimal PPC. Anda
jangan berharap sistem pembayaran di Google layaknya membayar listrik, dimana
pembayaran dilakukan berdasarkan tagihan atas pemakaian listrik. Biaya beriklan
di Google harus dibayarkan dimuka atau begitu pengiklan selelsai melakukan
pendaftaran. Kalau pemasang iklan menggunakan kartu kredit, maka ia akan dapat
menggunakan administrasi areanya begitu selesai mendaftar, tentunya jika tidak
ada masalah pada kartu kredit tersebut.

 

Setelah semuanya selesai, seperti saya uraikan
diatas, bahwa pengiklan akan mendapatkan administrasi area untuk mengontrol
performa iklannya seperti; sudah berapa klik yang terjadi pada iklan yang
dipasang, yang secara langsung terhubung dengan deposit yang telah dibayarkan.
Semakin tinggi jumlah klik pada iklan, jumlah deposit akan semakin sedikit,
karena dikurangi sesuai dengan biaya PPC yang telah tetapkan semula sampai
akhirnya habis. Deposit PPC mungkin saja akan lebih cepat habis, jika pengiklan
meningkatkan PPC nya dengan maksud mendapatkan posisi yang lebih baik, sehingga
kemungkinan untuk di klik semakin besar.

 

Misalnya pemasang iklan menaikkan PPC dari 2,5 sen
menjadi 5 sen, dan Jika posisi iklannya ingin terus berada pada posisi
teratas, maka pengiklan harus terus
meningkatkan PPC nya. Kenaikan PPC ini akan diikuti dengan perpindahan posisi
iklan ketempat yang lebih tinggi ketika ditampilkan bersamaan dengan hasil
pencarian. Jika si pemasang iklan termasuk dalam golongan pemasar atau media
planer yang tergila-gila pada kuantitas (rating/tingkat kunjungan), dapat
dipastikan ia akan terus melakukan bidding
hingga akhirnya justru terjebak pada (Cost per Contact) CPC yang tinggi.

 

Sebagai contoh dari bidding, Anggap saja saya ingin meningkatkan traffic di situs saya dan memutuskan untuk beriklan di Google
dengan asumsi, satu juta pencarian yang dilakukan user di Google akan
memberikan peluang pada iklan saya untuk di click
sebanyak  satu juta kali. Kalau 1% (10
ribu) dari total user melakukan klik pada iklan saya, maka kemungkinannya situs
saya akan mendapatkan tambahan pengunjung sebanyak 10 ribu orang. Semakin besar
saya menentukan total klik, maka semakin besar pula peluang iklan saya untuk di
klik orang. Toh PPC nya hanya 2,5 sen. Lagipula iklan saya tetap akan tampil
meskipun tidak di klik.

 

Ilustrasi diatas memang terdengar menyenangkan.
Apalagi untuk para pemasar yang masih menjadikan rating sebagai primadona dalam
strategi media placement nya
(untungnya saya tidak termasuk dalam golongan ini), bukannya mengacu pada
kategori dan karakter media yang sesuai dengan bisnisnya. Perlu digaris bawahi juga,
dengan memasukkan key word yang
mendeskripsikan bisnis Anda, Google telah memandu pemasang iklan untuk masuk
kedalam kategori yang lebih kecil dan pengiklan tidak akan pernah mendapatkan
total user di Google yang mancapai satu juta per hari. Iklan tersebut hanya
akan ditampilkan, dan mungkin saja di klik oleh user yang melakukan pencarian
di kategori yang sesuai dengan kategori iklan tersebut, berdasarkan
pendeskripsian yang dibuat sendiri oleh pemasang iklan.

 

Sebaiknya iklan pemasangan iklan diarahkan pada
kategori dan jangan pernah terpaku pada angka satu juta user per hari. Karena
angka satu juta tersebut akan tereduksi berdasarkan pencarian yang dilakukan
pengguna Google. Yang seharusnya menjadi pertanyaan adalah, berapa orang yang
melakukan pencarian di kategori yang sesuai dengan bisnis Anda? Sebagai contoh,
jika saya memasukkan key word:
“spesifikasi New Audi TT”, maka iklan yang akan tampil adalah iklan-iklan yang
memuat kata: “spesifikasi”, “New”, “Audi TT”. Jika Anda seorang pemilik
showroom mobil yang menjual Audi TT terbaru, dan Anda memasukkan kata Audi TT,
ada kemungkinan iklan Anda akan tampil bersamaan hasil pencarian di
Google.   

 

Pengkategorian dipergunakan untuk memudahkan
pencarian dan penyimpanan informasi didalam database milik Google. Toh
pemilihan kategori adalah perilaku alamiah manusia. Kita secara natural
melakukan pengelompokan terhadap benda-benda. Tumbuhan kita kelompokan sebagai
flora, binatang sebagai fauna, dan terus membaginya kedalam kelompok-kelompok
yang lebih kecil. Ini semua bertujuan untuk memudahkan penyimpanan dan pencarian
informasi dalam otak kita. Perilaku ini juga terjadi pada produk ataupun merek.

 

Persoalan lain timbul menyangkut biaya beriklan di
Google. Kalau Anda melihat PPC di Google yang hanya 2,5 sen, saya jamin Anda
akan berkata “Wah murah sekali beriklan di Google”, dan buru-buru menetapkan
total klik yang tinggi. Tapi Anda juga harus Ingat bahwa, agar dapat men-generate klik yang berujung pada peningkatan
kunjungan di situs Anda, berarti iklan Anda harus berada pada posisi yang strategis.
Kalau tidak, jangan berharap akan terjadi klik pada iklan Anda. Kalau ada lima
posisi strategis seperti yang telah diterangkan diatas, Anda harus berjuang
merebut posisi tersebut dengan cara bidding,
berarti Anda harus mengeluarkan uang lebih banyak.

 

PPC tertinggi yang pernah dibayar pengiklan untuk
Adwords di Google adalah US$ 19 (sekitar Rp. 171 ribu). Untuk meningkatkan
peluang klik pada iklan, Anda juga harus menentukan total klik yang tinggi pula.
Kalau Anda menetapkan 100 klik saja, berarti total yang harus Anda bayar adalah
Rp. 171.000 x 100 = Rp. 17.100.000. Ini pun masih belum dapat mmberikan jaminan
bahwa iklan Anda akan di klik. Karena konsentrasi user tertuju pada hasil
pencarian.

 

Kalau saja Google mengijinkan pemasangan iklan
visual (banner), Anda masih bisa bersenang hati, karena eksposur akan terjadi
lewat visual yang ditampilkan, dan Anda sebagai pemasang iklan masih bisa
berharap pengunjung akan mengingat pesan yang Anda sampaikan, meskipun tidak
melakukan klik. Tapi bagaimana dengan iklan teks? Seberapa kuat stopping powernya? Mampukah teks
menciptakan awareness dalam dua
detik? Saya tidak percaya itu dapat dilakukan oleh iklan teks.

 

Keadaan akan semakin buruk ketika ada pengiklan
lain yang mampu membayar lebih mahal. Kontan saja posisi iklan Anda akan
merosot. Kemungkinan terburuk lainnya adalah, kenyataan bahwa Google tidak akan
segan-segan mendepak iklan-iklan yang dinilai tidak efektif. Penilaian ini
ditentukan berdasarkan Click Through Rate
(CTR). Jika CTR-nya rendah maka Google akan menghapus iklan Anda, dan ucapkan
wassalam pada uang yang telah Anda keluarkan.

 

Semakin rendah Anda membayar semakin rendah pula total
CTR Anda, semakin besar pula kemungkinan Anda untuk di tendang oleh Google.
Keadaan buruk masih akan berlangsung dengan terungkapnya fakta bahwa tingginya
user di Google tidak berakibat pada tingginya CTR pada iklan.

 

Sebuah studi yang dilakukan iMediaconnection.com
selama empat tahun, membuktikan bahwa, dari lima juta user yang melakukan
pencarian di Google, ternyata hanya mampu men-generate 40.000 klik (tidak sampai satu persennya). Hasil studi
yang sama juga didapat oleh Newmedia, sebuah konsultan online media placement
yang berbasis di Thailand. Mereka mengatakan bahwa CTR hanya mencapai 1% dari
total kunjungan dari setiap situs di seluruh dunia.

Apa masih mau berorientasi pada klik? Iklan kan
juga untuk dilihat. Iklan TV unutk dilihat dan didengar, iklan radio untuk
didengar, billboard untuk dilihat, iklan imedia cetak juga untuk dilihat.
Sebuah kesalahan besar jika penempatan iklan di internet diukur berdasarkan
klik yang didapat.